Senandung purnama pucat satu detik lalu
Membawa kenangan lama dalam benak
Rengkuh aku dalam peluh yang menunggu
Layaknya pagi yang lelah menanti embun
Yang tak kunjung menebar bau basah di tengah kemarau
Aku masih menunggu pembebasan hati
Yang masih tertawan dalam belenggu cinta pertama
Ku tangisi malam dan bulan
Karena harus lewat tanpa cahaya
Ku panggil mimpiku pulang
Ku panggil asaku kembali
Karena cinta pertamaku telah kau bagi
Hingga aku harus mengucapkan selamat tinggal
Bahana angin klasik mengungkap sesal
Yang ku tuturkan pada semesta yang bersaksi
Kau mulai terlupakan
Dengan kehadiran berjuta wajah perkasa
Yang mengisi lembar cerita cintaku
Selamat tinggal cinta pertama
Hanya waktu yang bisa melihat tangisku
Saat kehilanganmu
Hanya masa yang bisa membuktikan rasa cinta
Yang hingga kini bersemedi di balik kilau malaikat putih
Hati yang membiru karena kau sakiti
Akan menemukan tambatan yang mengerti
Selamat tinggal cinta pertama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar