Saat pertama ku berpijak
Gemuruh teriakan semesta melengking ganas
Mengunci setiap bait
Yang telah tertuang lewat nada
Gemercik aliran udara merantai bibir
Kaku menghujam ke jantung alam
Ku terpaku saat sadar
Tak mampu bertutur untuk membaca bulan
Ku tak menyadari kembaran sukmaku
Yang telah lebih dulu membawa dawai
Sampai ke titik nada ini
Dan kau tak mampu melihat itu
Kau tak mampu meraba sebuah titah hati
Membaca sebuah sabda
Yang ku harapkan sebagai awal
Dari setitik mimpiku yang telah berpusara
Kau ikut dalam arus ramai itu
Menghujatku tanpa ampun dengan ribuan ucap
Ku terdiam membenarkan kenyataan
Yang kembali membunuhku
Ku dekatkan wajahku jauh ke pusat bumi
Meminta keperkasaan yang mampu
Membungkam seribu cemooh
Andai saja aku lebih cepat terbangun
Mungkin mimpi itu masih bisa terulang
Untuk malam berikutnya
Tapi semua terlambat
Pijar pagi telah terlanjur menyeret sadarku
Aku terlanjur kaku
Hingga tak mampu memetik dawai itu lagi
Aku telanjur bungkam
Hingga tak mampu lagi merangkai nada
Menjadi nyanyian alam karena fajar laguku
Telah merantau jauh
Meninggalkan wangi asa
Yang belum sempat merebak di pagi yang buta
Ku tak mau lagi menulai lagu…
Ku tak mampu lagi untuk bernyanyi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar