Sabtu, 30 April 2011

Numpang curhat..>!!

kmaren, kmu dtang dan brhenti di sudut jln itu. mntapQ dgn snar mata yg sulit Qu phami. Ad rsa bngung, degdegan, heran yg brkecamuk saat itu. Ini bkan prtama kalinya aQ mlihatmu walau baru kali ini bgitu dekat. Hingga aQ bs mnangkap gris wjahmu yg saat itu sedikit jngkel krna lama menunggu. aQ mang sring mlihatmu, d jln, d plbuhan, d pntai, d acara syukuran tmnQ dan d bxk tmpat lgi. tp bru kali ini aQ mngnalmu lwt sbh nama. Entah mngapa aQ bgitu senang bs mngenalmu, bs brinteraksi dgnmu wlu hx sbh jlur maya yang tak terjangkau pmikiran kita. aQ tw kw ada wlu aQ tdk yakin kw mw ada untukQ. ad rs enggan di drimu stiap kali qu bca gtaran2 jemarimu di LDCq yg bgitu sderhana. aQ kcewa.... krn aQ ykin akn trluka bila suatu saat kw abaikan aQ.
Tak bxk lgi tmpat d htiQ yg akn bhagia, bila sebagian bsar yg tlah trisi byanganmu akn mngental dlm drah luka yg akan kw ciptakan nnti. kw psti akn brhsil mmbunuhQ. dlm kyakinanQ ats prsaan ini, aQ msih lrut dlm prtanyaanQ. Mengapa aQ hrus sprti ini??? mmendam rasa ini??? pdahal sbnanrx aQ sdh mnjaga htiQ, aQ tahu smua tdk akan mdh bila hal ini trjadi. Hx sj hti dan smua rasaQ malah brkonspirasi mlawanQ, mreka mmilihmu dan mngabaikan prmohonanQ yg msih sngat takut trluka lgi.
Kemaren, adlh hri yg sngat indh, mski brulang kali aQ brteriak it tdk bnar sparuh hti dan rasaQ mngakui, kmaren adlh hari trindah. aQ ingin sllu mlihatmu kmbli k sdut jlan itu dan aQ bs mnikmati getaran htiQ yg brontak. tpi tdk...... kw tdk nmpak. kw msh dsna dgn brbagai hal yg tdk Qu kthui.
Bintang timur tertidur d sudut langit mlm, ia mmudar brkelap kelip mngikuti rmbulan yg merana!! aQ yg ikut mngalir dlm suasana itu mmbiarkn lelah alam mengantrQ k sudut mimpi. Mngkin kelak aQ bs mlihatmu lgi, trsenyum d sdut jln itu!! trsenyum utk org yg kw cntai.

Kamis, 28 April 2011

Pembunuh Mimpi

aQ kmbli mmbunuh mimpiQ dgn seribu airmata, setitik tinta emas yg dulu smpat qu goreskan, buram kdinginan di tengah basahnya htiQ yg mnciut.
Lngit kmbli mnegurQ, sbh gmbaran msa depan suram muncul di pelataran gelapnya yg luas tanpa ada setitik cahaya pun yg membelaQ. Seolah semua mimpi yg pernah Qu tulis di dinding langit itu adlh sbh kesalahan bsar.
Sebait puisi angin lewat di wajahQ tnpa bs Qu bca. Ruang ini trlalu pngap utk bs mmberiQ nfas khidupn yg sbenarnya.


Kini...................
Saat laut dgn ombaknya mmpu merubah bukit2 psir mnjadi keperakkan, saat matahari mmpu melukis sekumpulan senja mnjdi keemasan atw hujan yg mmpu menjelmakan badai mnjadi pelangi. Apa yg bs Qu lkukan???
aQ bhkan tak mmpu mengankat tnganQ dan blang "aQ bisa"


Hari ini, kmbli Qu temukan sesal yg trsesat senang di hatiQ. Ibarat luka rembulan yg ingin brsembunyi dari senyum bintang, aQ ingin menepis kebenaran bahwa aQ g mmiliki rasa itu. aQ tidak mnginginkannya!!!!
 Tapi............................
AirmataQ tak sanggup lagi untuk berbohong.
aQ SAKIT ................. TUHAN....................
aQ SAKIT.................. ya ALLAH .................
aQ SAKIT.................. ROBBI..................


aQ takut dan sakit saat sadar,,,,,,,
aQ benar-benar telah JATUH CINTA padanya :)

Kamis, 21 April 2011

Getar Hati


Waktu terasa merangkak tak mau berlari
Barisan debu girang melepaskan diri
Dari belenggu tanah yang padat
Angin membisikan suara sendu
Yang membentuk laskar kesepian
Goresan-goresan tercipta tanpa terbaca
Usang terpajang tanpa terpandang
Hanya selembar kertas putih
Yang kelak menjadi saksi akan pernah hadirnya di sini
Hanya dingin, gelap dan sunyi yang selalu hadir
Mungkin telah habis masa bersama
Telah datang masa di mana aku harus terjepit, terhimpit roda kehidupan
Semua ini membuatku ingin berlari, mengadu
Ingin pulang ke rahim ibu
Semua begitu kuat, begitu berat, begitu keras melilit hingga menyesakkan nafasku
Mengapa semua ini harus datang saat aku sendiri??
Saat semua pergi, semua hilang, hanya karena bentangan jarak
Janji yang terlanjur terucap tak mampu tertunaikan
Teringkari dan lapuk bersama waktu yang bergulir menyapu hari
Hati terasa mati tanpa rasa
Raga terasa mati tanpa nyawa
Adakah sekeping maaf yang terselip
Untuk membersihkan bercak noda hitam ini ?
Hanya airmata penyesalan
Yang tak henti-hentinya mengalir
Seakan ingin mencuci segala kesalahan
Namun semua itu tak cukup
Mungkin waktu sedang mempermainkan aku
Takdir membiarkan bidukku hanyut lepas di laut bayangan
Dan bertualang di gaibnya mimpi
Aku kelak hanya akan menjadi harapan yang terlupakan
Kenangan yang tertinggal dan hati yang terbuang dari jasad pemiliknya
Menyakitkan ……
Seakan menghimpit auraku……
Aku ingin pergi meninggalkan semua ini, jauh…
Jauh dari berjuta hati yang dulu mendekapku erat
Mengikatku pada sebuah tali Persahabatan
Semuanya berakhir….
Tanpa maaf…
Tanpa kata….
Karena kesalahan tak termaafkan

" I'm falling in love "

luka angin brlalu, mninggalkan rayuan maut di tangkai2 rapuh dedaunan kering.Hidup yg brkalang tanah, mngharap sekeping nafas bumi yg tlah merantau jauh dri jntung khidupannya.
Awan kmbali berarak di singgasana lngit yg mnyelimuti kdinginan rembulan. aQ mnunduk saat nyanyianQ kandas di sayap2 bintang. LaguQ mngkin akn brakhir dlm chaya itu.
Qu mnunduk lgi saat desau angin mmbisikkan namamu di sudut bilik hampa tempatQ brsyair. Kini... aQ bhkan bisa mlihatmu saat mnutup mata. BibirQ kelu saat rnduQ padamu sesak mengisi seluruh hatiQ. Apa yg hrus qu lkukan???
Tuhan... aQ rapuh.
Tolong aQ Tuhan.....
aQ sungguh tak mmpu mnahan driQ utk tdk jtuh cnta pdanya!!
Tuhan... aQ mncintainya..!!!

Suara Alam

Tak ada seorang makhluk pun
Yang mau menuliskan Qadar
Di lembar takdirnya
Jagat pun menghendaki
Hal yang sama

Alam tempat kita bertahta
Sudah tak terjaga
Bumi tempat kita bertasbih
Tak berseri lagi

Suram…… redup
Seperti rerumputan hijau
Yang telah tumbang oleh topan
Seperti sayap merpati yang   patah
Karena telah lelah terbang menghadang badai

Rona mentari tak lagi menghangatkan
Hanya panas panas
Panas yang menyiksa
Menggambarkan jahanamnya neraka
Garis angin khatulistiwa
Tak lagi hadirkan kesejukkan
Hanya pengap
Pengap yang menyesakkan
Menggambarkan pedihnya sakratulmaut

Tanah meranggas pecah
Di tengah memuncaknya cahaya
Alam menjerit memanggil keadilan
Yang hanya dapat bersembunyi
Di balik punggung emas materi
Semesta mengeluh pada hukum
Yang tak mampu lagi berdiri tegak

Dimana lestari yang selama ini dikumandangkan??
Dimana lestari yang selama ini disuarakan??
Dengar kawan
Dengarkan suara alam yang memanggilmu
Untuk tahu dan mengerti
Dengarkan suara semesta yang memanggilmu
Untuk sadar dan peduli


Rabu, 20 April 2011

CerpenQ (Mengejar Bintang)


WHO ARE YOU….????
Aku masuk dengan langkah setengah berlari ke mulut jalan yang becek berlumpur. Rumahku masih berjarak beberapa ratus meter lagi, sementara hujan malah bertambah deras mengguyurku. Sialnya mobilku malah memilih mogok dalam kondisi seperti ini. Ponselku juga ikut-ikut merajuk, berlagak lowbat lagi!!! Aku meneruskan langkahku sambil sekali-sekali menyeka air hujan yang membasahi wajahku. Mataku jadi sedikit perih!!
“Akkkhhh” aku mengerang pelan saat kakiku sukses tergelincir, badanku menyusul ambruk kehilangan keseimbangan. Malah lebih sial lagi sekarang!!! Aku mencoba menggerakkan kakiku yang tadi terkilir, tapi sialnya menjadi dobel karena kakiku sekarang sakit dan tidak bisa diajak untuk berjalan sedang badanku masih sulit terbangun. Aku menoleh dengan sikap panik ke kiri dan ke kanan tapi suasana sunyi hanya air hujan yang semakin ramai mengisi kekosongan bumi.
Kemana semua penghuni alam ini, mengapa pada saat gadis lemah tak berdaya, terpuruk dalam keletihan batin yang menyiksa dan butuh pertolongan  seperti aku semuanya malah menghilang. Ahh lebaay deh!!!
“Kamu kenapa??” seseorang mendadak menyapaku membuat mataku bersinar menjadi matahari di hari yang mendung ini. Akhirnya pahlawan yang aku tunggu datang juga!!!
“Ehh.. tidak apa-apa. Cuma terkilir jadi tidak bisa jalan.” keluhku saat dia menyentuh kakiku. Wajah pahlawan kehujanan ini tidak begitu jelas, karena guyuran hujan. Hanya kacamata lebarnya yang bisa menjadi pusat perhatian.
“Waduuhh gimana yah?? Kalau aku gendong gimana??” katanya lagi membuatku kaget. Apa aku mau digendong sama dia??!! Cowok tak dikenal dengan sweater hijau yang sudah basah kuyup. Lagipula mama pasti akan histeris melihat putri kesayangannya pulang dalam keadaan basah kuyup dan digendong oleh seorang pahlawan yang kehujanan. Otakku berpikir cepat, kalau aku tidak mau digendong sama cowok ini, pasti sampai sore aku akan tergeletak tak berdaya ditempat ini.  Akhirnya aku mengambil sebuah keputusan yang memang harus kulakukan.
“Ok kalau gitu, tapi hati-hati yah” jawabku memberi persetujuan, membiarkan cowok asing ini menolongku walaupun aku sangsi apakah cowok ini kuat menggendongku, badannya kelihatan lemas begitu!!!
Dia mulai mengangkat badanku dengan perlahan, dan dengan tidak disangka dia mampu membawaku berjalan tanpa mengeluh sedikit pun. Seolah aku hanya beban ringan yang enteng!!! Salut deh sama cowok ini.
“Sampai sini saja yah” katanya sambil meletakkanku di depan pintu dan membantuku berdiri dengan satu kakiku yang masih baik-baik saja. Aku masih heran saja, siapa cowok ini?? Aku belum pernah melihatnya. Tidak mungkin dia tinggal di kompleks ini. Tapi kok dia bisa tahu yah rumahku??
Aku masih bengong memperhatikan wajahnya, saat muncul sebuah senyum manis di sana. Aku terkejut saat hatiku tiba-tiba bergetar, cowok ini ternyata sangat tampan. Hanya saja dia terlihat cupu karena kacamata besar itu.
“Aku permisi dulu yah, semoga kakinya cepat sembuh” katanya sambil berlalu dari hadapanku. Aku masih tetap terdiam seperti terbius oleh senyumnya tadi. Kenapa aku mendadak gemetar begini?? Apa karena aku kedinginan yah??
“Hey siapa namamu???” teriakku saat sadar dia mulai menjauh.
“Aku Rey, Reygha” jawabnya sambil terus berjalan.
“Thanks yah” seruku lagi sambil melambaikan tanganku.
“You’r welcome, Bintang” balasnya dan dengan segera dia menghilang di balik pagar tinggi yang mengelilingi rumahku.  Aku berbalik hendak mengetuk pintu saat muncul pertanyaan lagi. Dari mana dia tahu namaku?? Apa dia kenal sama aku?? Setahuku di kompleks ini tidak ada seseorang dengan wajah seperti itu apalagi dengan nama Reygha. Tapi kenapa dia bisa tahu namaku???
“Non, kok melamun??” suara Mira mengagetkan aku yang masih asyik beradu dengan lamunanku tentang pahlawan tadi. Mira adalah anak bibi Nurul yang ikut membantu ibunya di rumah ini.
“Ehh… kamu bikin kaget saja” seruku menepuk bahunya pelan.
“Lho kok non kehujanan?? Mobil non kemana?? Terus kenapa berdiri miring begitu??” katanya lagi dengan nada panik melihat kondisiku seperti kucing yang kena siram. Super berantakan!!
“Mobil aku mogok di depan jalan, jadi aku jalan kaki saja. Tapi pass di depan, mendadak kakiku terkilir!! Ya sudah, kamu bantu aku jalan yah” kataku sambil mulai bertumpu di bahunya.
“Duuh non, Amira tidak bisa membantu non!! Non kan tinggi, kita bisa jatuh non” kata Mira sambil berdiri terhuyung-huyung menopang badanku yang memang jauh lebih tinggi darinya. Aku tertawa kecil saat muncul sebuah kenyataan lagi di benakku. Kalau dipikir-pikir ternyata nama pembantuku ini keren juga, mirip nama artis!!!
“Lho kok non malah tertawa, berat neh non” katanya lagi dengan wajah meringis. Tepat saat itu mama muncul dari dalam.
“Sayang kamu kenapa??” tanyanya dengan suara penuh kepanikan melihat keadaanku yang basah kuyup plus kaki terseok dalam posisi yang tidak normal.
“Tidak apa-apa ma, cuma tergelincir saja tadi!!” jawabku santai. Aku tidak ingin mama semakin panik, karena kalau mama panik maka akan terjadi kehebohan yang luar biasa yang bisa menyebabkan tiga negara bagian Amerika ikut heboh. Seorang gadis dewasa yang bernama Bintang Azzahra yang telah berumur 23 tahun masih diperlakukan seperti anak kecil oleh mamanya. Mama memang sangat memanjakan aku, dan itu kadang membuatku sedikit malu.
“Coba sini mama lihat, jangan sepelekan lho!! gimana kalau kakimu patah??” kata mama sambil mulai memeriksa kakiku. Waktu kecil aku memang pernah mengalami patah tulang, mungkin itu yang membuat mama super mengawasiku. Apalagi aku adalah anak satu-satunya!!
“Mira, kamu ambil kursi roda di kamar belakang” perintahnya sambil terus memeriksa kakiku dengan serius seperti dokter yang tengah memeriksa seorang pasien yang emergency.
“Ahh mama, kok pakai kursi roda segala?? Aku tidak apa-apa kok” keluhku memberikan protes pada mama.
“Kamu tidak usah banyak membantah, kaki kamu bengkak harus dipanggilkan dokter” kata mama lagi langsung mendudukkan aku di kursi roda yang dibawa oleh Mira. Aku menyerah saja, ku biarkan mama membawaku ke dalam.
Siang itu, hujan semakin bertambah deras. Aku sudah cemas saja jangan-jangan dunia ini tiba-tiba runtuh. Aku meringkuk di dalam selimut tebalku saat mama masuk ke kamarku dengan membawa segelas coklat panas.
“Minum dulu sayang!!! Nanti mama panggilkan dokter buat kamu” katanya.
“Tidak perlu ma, Bintang baik-baik saja” hatiku mulai berontak. Mama selalu memperlakukan aku seperti anak kecil. Setiap pagi bila aku hendak berangkat kuliah atau ke kantor mama selalu merapikan pakaianku yang sebenarnya sudah rapi. Bahkan kadang-kadang membekaliku dengan air putih.
Mama diam saja, dia tidak menanggapi perkataanku tadi. Dia malah mulai mengusap-usap rambutku!!! Ini adalah jurus jitu mama untuk membuatku tidur waktu aku kecil dulu. Dan sepertinya cara itu masih tetap berlaku. Mataku mulai memberat, dan ku biarkan bunyi hujan yang ramai mengantarku ke lenaku. Seharian ini aku larut dalam mimpiku yang tidak jelas!!! Aku bangun saat hari telah menjelang sore, kakiku yang terkilir sudah dibalut dengan gips!!!
“Lho, Mira?? Kok kamu di situ??” aku kaget melihat Amira tiba-tiba keluar dari kamar mandiku yang terang.
“Ini non, saya disuruh ibu menyiapkan air hangat buat non!!! Sekarang non langsung mandi saja yah” jawabnya sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang baru saja ditinggalkannya.
“Ya ampun Mira!! Aku kan bukan bayi. Kenapa harus mandi pakai air hangat??” hatiku kembali berontak!! Aku bukannya tidak suka mama perhatian sama aku tapi kadang perhatian itu membuatku merasa tertekan.
“Udahlah non, tidak usah protes sama ibu!! Mending non langsung saja mandi” kata Amira langsung keluar dari kamarku.
“Ehh.. tunggu Amira” langkah Amira tertahan saat aku kembali memanggilnya. Dia berdiri mematung menungguku mengucapkan sesuatu!!
“Siapa yang pasang gips di kakiku??”
“Ohh.. itu non, tadi ibu panggil dokter waktu non tidur!! Dokter itu yang pasang gipsnya. Oh ya non, Arman sudah mengurus mobil non, sekarang mobilnya sudah ada di garasi” jawabnya kemudian langsung pergi. Kali ini aku tidak ingin menahannya, aku membiarkan Amira menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
Mama memang tidak berubah, tetap seperti dulu dan tidak ada gunanya membuat protes karena mama akan tetap seperti itu!! Aku membuka sendiri gips kakiku dan segera membersihkan diri. Hangat air yang mengguyur tubuhku kembali mengingatkan aku tentang cowok tadi, Reygha!! Kenapa hatiku tiba-tiba bergetar saat melihat senyumnya. Aku memang sudah lama tidak merasakan itu. Sejak putus sama Aray waktu SMA dulu, aku memang tidak bermaksud untuk mengulang kisah yang sama. Aray, dia adalah bagian kehidupanku yang paling sempurnah. Dia adalah seorang kapten tim basket di sekolah sekaligus seorang pianist yang sangat handal, aku sering memanggilnya maestro walaupun itu mungkin tidak cocok. Aray adalah cowok pertama yang membuatku merasakan cinta walau sebelum jadian sama dia, aku sudah beberapa kali menjalani hubungan yang sama. Dia cowok pertama yang membuat hatiku bergetar!!! Dan tadi aku merasakan hal yang sama saat melihat senyum Reygha, cowok asing yang sudah menjadi pahlawan kehujanan dan menolongku.
Ku basuh badanku dengan air hangat yang sukses membuatku kembali fresh. ponselku bordering saat aku keluar dari kamar mandi!!! Nama Anggun muncul sebagai caller.
“Hallo….” Sapaku sambil mengeringkan rambutku dengan selembar handuk.
“Hai tuan putri..!!! aku dan Wanda dalam perjalanan ke rumahmu neh, siapkan cemilan yah” katanya sambil langsung menutup telfonnya. Ya ampun, aku baru ingat kalau siang tadi kami punya janji nonton di bioskop. Mereka pasti ngambek dan datang untuk protes. Wuuhhh… gawat neh!!!
Wanda dan Anggun, mereka adalah sahabatku sejak di SMA. Wanda, cewek tinggi yang suka tantangan dan sedikit tomboy. Aku sering memanggilnya  Miss Cuek, karena dia tidak pernah perduli dengan apa yang dilakukannya. Dia akan melakukan apa saja yang menurutnya benar, bahkan berkelahi untuk membela diri atau teman-temannya. Dia juga bisa jadi bodyguardku lho. Lalu ada Anggun, cewek cantik, agak tinggi dengan kulit putih. Aku sering memanggilnya Miss Irit, karena hematnya minta ampun.
Aku baru saja selesai menyapukan bedak ke wajahku saat terdengar suara gaduh di luar kamar.
“Hey” suara Anggun yang nyaring mendadak pecah di ruang kamarku yang terang.
“Waah tuan putri lagi dandan” Wanda menyusul masuk dan langsung menghempaskan badannya ke ranjang. Aku menyusul mereka duduk di ranjang dengan langkah yang agak terpincang-pincang.
“Jadi kaki kamu benar-benar sakit yah??” tanya Wanda sambil memperhatikanku. Mereka pasti sudah dengar dari mama.
“Kakiku tadi pagi terkilir dan mama malah memanggilkan dokter untuk memasang gips.” jawabku.
“Umm kamu memang tidak berubah!! Tetap saja jadi Bintang yang manja, masa terkilir saja pakai dipasangkan gips segala, kayak patah tulang saja” sambut Anggun sambil memonyongkan bibirnya.
“Aku bukannya manja, tapi mama yang selalu memperlakukan aku seperti anak kecil. Oh ya ngomong-ngomong kalian jadi ke bioskop tadi siang??”
“Yaaahhh… kok kamu malah bahas itu. Padahal aku tadi sudah lupa masalah penderitaan kami di bioskop” keluh Anggun disambut dengan gelak tawa oleh Wanda.
“Penderitaan??? Masa hanya karena aku tidak datang kalian jadi semenderita itu??” tanyaku bingung.
“Ini bukan masalah tentang kamu tidak datang, walaupun aku jengkel juga karena kamu ingkar janji. Ini masalah si cupu yang aku temui tadi di bioskop” keluh Anggun lagi membuatku semakin tidak mengerti. Siapa yang dimaksud Anggun dengan si cupu??
“Itu lho Bintang, Amar anak fakultas sebelah yang sering kejar-kejar si Anggun!! Tadi kita ketemu dia di bioskop. Duduk bareng lagi!! Pokoknya heboh sekali” lanjut Wanda dengan tawa yang makin heboh. Yahh pasti Anggun akan sewot kalau ketemu ketemu sama Amar, cowok dengan kacamata lebar, rambut mengkilat yang selalu mengejar Anggun sambil membawa bunga mawar.
“Oh ya Bintang, tadi Kaeda tanya tentang kamu!! Kayaknya dia kangen deh” kata Wanda setelah tawa kami reda. Umm Kaeda, kapten tim basket kampus Azzahrah. Cowok tinggi keturunan Jepang dengan mata yang sangat sipit. Aku jadi teringat film kartun Jepang yang selalu aku nonton bila melihat dia. Apalagi namanya juga sama. Dia pernah bilang suka sama aku, dan aku janji akan menjawabnya. Tapi sampai sekarang aku belum pernah menjawabnya.
“Hey, kok malah melamun??” Anggun mengagetkan aku karena aku diam saja.
“Ummm nanti salam saja sama dia” jawabku sekenanya, aku tidak tahu harus memberi tanggapan apa tentang Kaeda.
“Bintang, jangan bilang kamu tidak suka sama Kaeda” kata Wanda dengan nada serius. Seolah-olah aku adalah cewek terbodoh kalau sampai tidak suka sama Kaeda. Tapi itulah kenyataannya, aku tidak punya perasaan apa-apa pada Kaeda. Aku hanya diam saja mendengar ucapan Wanda yang berhasil menebak apa yang ada di otakku.
“Ya ampun Bintang, aku masih bisa menerima kalau kamu menolak semua cowok-cowok sebelumnya, tapi kalau kamu menolak Kaeda………!!!!” Wanda tidak melanjutkan kalimatnya, dia hanya meletakkan kedua tangannya di kepala seraya memasang wajah tidak percaya.
“Kamu bodoh Bintang kalau sampai menolak Kaeda. Ribuan cewek di luar sana memohon-mohon untuk bisa dapat perhatian dari Kaeda, tapi kamu menyia-nyiakan perhatiannya” sambung Anggun mendukung pendapat Wanda.
“Mungkin karena hal itu, aku tidak punya keinginan untuk lebih dekat dengannya. Lagipula aku hanya akan menerima orang yang aku sayang, bukan karena dia terkenal atau karena dia keren. Itu bukan cinta namanya” jelasku tidak mau kalah.
“Lalu siapa yang kamu cinta sekarang??? Ayo jawab!!” Anggun kembali memberikan pertanyaan, seperti seorang jaksa yang sedang menekan seorang tersangka.
“Belum ada” jawabku dengan wajah polos menyebabkan Anggun dan Wanda mengerang keras karena kesal.
“Kamu benar-benar mati rasa yah!!! Ini semua gara-gara Aray” keluh Wanda, membuatku kembali teringat semuanya.
Aku bukannya mati rasa, aku hanya takut mengulang hal yang sama. Aku takut rasa sakit itu akan kembali menderaku. Semua hal yang membuat hubunganku dengan Aray berakhir tergambar kembali di ingatanku.
Hari itu adalah pertandingan terakhir klub basket SMA Ayudha dengan SMA Azzahra tempatku dan Aray bersekolah. Aray yang saat itu kapten tim basket tidak ikut main, dia bilang sedang sakit. Jadi terpaksa tidak bisa ikut pertandingan terakhir itu. Untung saja teman-teman Aray tidak kalah jago, so tanpa Aray pun mereka bisa menang dengan skor telak. Aku baru saja hendak menjalankan mobilku saat sms dari mama masuk.
Jmpt ma2 donk syang, dh d bndra neh
Aku langsung ngebut ke bandara. Mama baru saja pulang dari Jakarta, pasti bawa banyak oleh-oleh. Setelah sampai di bandara, aku mencari-cari mama di antara para penumpang yang baru turun tapi tidak ku temukan. Mataku awas mengamati setiap orang yang lewat. Aku tertegun saat mataku tiba-tiba saja menangkap sosok Aray. Dia sedang berhadapan dengan seorang cewek dengan blouse putih yang terang. Katanya lagi sakit!!! Kok Aray ada di sini???
Terdorong rasa penasaran aku berlari mendekati Aray yang saat itu tengah berbicara serius dengan cewek itu. Seperti pembicaraan para menteri yang sedang membahas masalah besar yang melibatkan kepentingan satu Negara. Langkahku terhenti saat terdengar suara perbincangan Aray dengan cewek yang belum jelas itu.
“Honey, apa kamu serius harus pindah sekolah ke Jepang?? Kenapa harus sejauh itu??” kata Aray sambil meletakkan tangannya ke pundak cewek yang saat itu sedang menatapnya lekat. Itukan Rere, teman sekelasku yang akan pindah ke Jepang mengikuti orangtuanya yang kerja di sana!! Apa dia pacaran juga sama Aray??
“Ini harus Ray, kita tidak bisa menolaknya” jawab Rere dengan nada sendu, seolah perpisahan ini adalah hal yang paling menyakitkan buat mereka berdua. Aku terdiam menikmati detak jantungku yang semakin cepat, mendadak ada sebuah rasa sakit di dalam hatiku. Aku ingin berteriak tapi aku tidak bisa.
“Tapi bagaimana dengan kita Re, aku tidak bisa hidup tanpa kamu” Aray kembali membujuk Rere dengan rayuan mautnya. Kalimat itu selalu diucapkannya padaku setiap malam, saat dia mengantar tidurku dengan nyanyiannya lewat telfon. Tapi sang maestro itu ternyata seorang pembohong kelas kakap!!!
“Kita masih bisa tetap berhubungan kok, lagipula kamu kan masih punya Bintang” Aku terkejut saat Rere tiba-tiba saja menyebutkan namaku. Dia tahu kalau Aray pacaran sama aku, lalu kenapa dia masih mau?? Sebenarnya siapa  yang jadi selingkuhan, aku atau dia??
“Aku sebenarnya sudah capek berbohong sama dia, aku hanya cinta sama kamu Re!! tapi ya sudahlah, dia bisa jadi penghibur kalau aku kangen sama kamu” sebutir airmataku mengalir saat mendengar kata-kata “PENGHIBUR” itu keluar dari bibir Aray. Jadi selama ini dia hanya menganggap aku badut yang bisa menghiburnya bila Rere sedang tidak bisa bersamanya. Mengapa aku bisa tidak sadar?? Aray dan Rere memang pandai menyusun semua skenario ini. Aku berhasil mereka tipu!!!
“Sudah cukup Ray, aku tidak mau lagi”
“Bintang…!!! Kamu….. kamu…..” Aray tergagap saat aku tiba-tiba menyela pembincaraan mereka. Wajahnya mendadak pucat.
“Ya… Aray, aku memang bodoh!! Terimakasih kalian sudah mau memberikan pelajaran berharga buat aku, terimakasih sudah menipuku. Tapi mulai sekarang aku tidak akan menjadi badutmu lagi, aku punya hati yang pastinya tidak akan aku berikan buat kamu. Kita PUUUTTTUUUSSS Aray!!”
Aku mungkin harusnya sudah mampu melupakan hal itu. Saat belati kebohongan Aray  menciptakan lubang besar di hatiku, tapi hal itu juga yang membuatku takut untuk kembali merasakan hal yang sama. Aku takut dibohongi lagi.
“Wooee…!! Kok melamun lagi??” bentakan Wanda yang super nyaring mengagetkan aku dari lamunanku yang membumbung.
“Kamu sih, pakai sebut-sebut nama Aray segala!! Kita minta maaf yah Bintang, mulai sekarang kita tidak akan memaksa kamu untuk cari pacar lagi” kata Anggun sambil memelukku.
“Oh ya Bintang, kapan kamu mau ajak kita ke kebun bungamu??” Anggun mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia mengingatkan aku pada kebun bungaku yang ada di daerah puncak. Dari kebun bunga pemberian papa itu, aku berhasil mendirikan toko bunga dengan cabang yang lumayan banyak. Dan dari semua itu aku bisa membiayai kuliahku sendiri. Karena selain bekerja di perusahaan papa yang bergerak di bidang automotif aku juga bisa belajar menjadi pengusaha dengan mendalami usaha toko bungaku sendiri.
“Nanti kapan-kapan aku ajak kalian ke sana!!” jawabku sambil tersenyum ke arah dua sahabatku itu.
“Yaelah Bintang, tidak usah pakai kapan-kapan deh!! Yang pasti donk, aku kan belum pernah kamu ajak ke sana, padahal kamu sudah bertahun-tahun menjalankan usaha itu” protes Wanda dengan mata mendelik. Aku memang belum pernah mengajak mereka ke sana!!
“Ya udah, besok saja kita ke sana!! Kebetulan aku sudah lama tidak memantau pegawai-pegawai di sana” seruku membuat Wanda dan Anggun bersorak. Dan tepat saat itu Amira masuk!!
“Non, ada sesuatu neh buat non” katanya sambil memperlihatkan serangkaian mawar putih yang tersusun rapi. Siapa yang mengirim bunga buat aku yah??? Darimana orang ini tahu kalau aku sangat menyukai bunga terutama mawar putih??
“Waaahhh ternyata teman kita yang cantik jelita ini punya penggemar rahasia” kata Wanda pada Anggun sambil memasang wajah yang aneh. Mereka pasti menggodaku!!!
“Coba sini aku lihat” aku tidak memperdulikan godaan dari Wanda, perhatianku tersita habis oleh rasa penasaranku pada pengirim bunga ini.
Retak di sayapku menemukan akhir
Luka yang membuatku berhenti terbang menemukan akhir
Tapi erangan di hatiku belum terhenti
Saat matamu menatapku asing!!! Kau tak mengenaliku….
….. Reygha ……
 “Wow, ternyata penggemar rahasiamu itu seorang pujangga” ungkap Anggun dengan nada kagum membaca puisi yang tertulis di selembar kartu putih penyerta karangan bunga itu. Siapa dia sebenarnya??? Dia sepertinya begitu mengenalku!!!
 “Bagaimana dia??” seru Anggun antusias sementara Amira masih berdiri mematung memperhatikan kami.
“Dia siapa???” tanyaku dengan nada bego, getaran di hatiku mulai terasa lagi!!!
“Ya ampun Bintang!! Reygha itu benar-benar sakti yah. Hanya dengan seikat bunga begini dia sudah bisa buat kamu bego. Aku yakin kamu pasti sudah jatuh cinta sama dia yah??” teriak Anggun senang sambil memukul-mukul bantal. Sementara Amira tersenyum senang melihat tingkahnya, aku memang sudah menganggap Amira seperti sahabat aku sendiri jadi ku biarkan saja dia. Malah kadang dia ikut ngerumpi sama kami kalau lagi tidak ada kerjaan.
“Jangan gila deh!! Aku tuh belum pernah ketemu sama dia, masa langsung jatuh cinta begitu saja” bantahku seraya melemparkan guling yang tadi di pukul-pukul ke arahnya.
“Ya udah non, daripada berantem begini mending non sama teman-temannya turun makan saja!! Makan malam sudah disiapkan” sela Amira di tengah kegaduhan kami.
“Haahh makan malam??? Ini sudah malam yah?? Tidak terasa” seru Anggun terkejut.
“Kita harus cepat-cepat pulang neh, kalau tidak bisa kena damprat kita!!!” seru Wanda ikut-ikut panik.
“Lho kalian tidak makan bareng aku??” keluhku, aku sebenarnya ingin mereka makan disini saja.
“Lain kali saja yah, kami harus cepat-cepat pulang”
Aku langsung ke meja makan setelah mengantar Wanda dan Anggun sampai ke gerbang depan.
“Bagaimana kakimu??” mama langsung bertanya begitu aku duduk berseberangan dengannya.
“Sudah tidak apa-apa ma” jawabku sambil tersenyum ke arah papa yang menyendokkan nasi ke piringku.
“Syukurlah kalau begitu, papa sudah khawatir saja jangan-jangan kaki kamu patah lagi” sambut papa.
“Insyah Allah tidak akan lagi pa” jawabku mulai makan. Kehangatan seperti ini adalah hal yang paling membahagiakan!! Syukur terbesarku ya Allah karena Engkau memberiku orangtua yang begitu sempurnah.
“Oh ya pa, aku besok tidak bisa masuk kerja!!! Harus ke puncak” kataku melanjutkan konferensi meja bundar versi keluarga ini.
“Ok, yang penting hati-hati dan sampaikan salam papa pada pak Halim dan keluarganya” jawab papa sambil mengarahkan sendoknya ke arahku. Pak Halim adalah pegawai yang menjaga kebun bungaku di puncak. Ia dan keluarga sudah banyak membantuku dalam mengelola usahaku!!!
“Sayang, selesai makan kamu bawa ini yah ke rumahnya om Yudha” kata mama sambil meletakkan sebuah kotak putih di atas meja makan.
“Apa tuh ma??”
“Ini kue buat om Yudha dan keluarganya!! Anak mereka baru saja pulang dari Jepang jadi mama mau memberikan ini buat mereka” lanjut mama. Om Yudha adalah tetanggaku, rumahnya terletak di sebelah kiri rumahku, begitu dekat hanya dipisahkan oleh pagar tinggi yang mengellingi rumahku.
“Ahhh mama kok Bintang yang bawa sih!! Suruh Amira saja deh” keluhku pada mama yang hanya tersenyum-senyum.
“Ayo donk sayang!!! waktu kamu pulang kuliah dulu dari Australia, tante Rizuky kan membawakan kamu kue, dan dia tidak menyuruh pembantunya!!” lanjut mama membuat benteng pertahananku runtuh. Aku selalu lemah bila masalahnya sudah menyangkut balas budi. Aku langsung ke rumahnya om Yudha begitu selesai makan. Aku tidak menyangka kalau om Yudha punya anak yang sudah selesai kuliah. Karena yang aku tahu cuma Yumi, anak perempuannya yang baru duduk di SMP.
“Assalamu’alaikum” seruku saat sampai di depan pintu. Sepertinya bel pintunya agak macet karena dari tadi aku pencet tidak berbunyi.
“Wa’alaikum salam” seseorang secara mendadak membuka pintu. Seorang cowok keluar sambil menyandang sebuah gitar acoustic. Aku kembali tertegun, cowok tinggi ini pasti anak om Yudha yang mama ceritakan itu. Dia mewarisi sebagian besar raut Japanese yang dimiliki oleh tante Rizuky. Dan yang membuatku kembali bingung, getaran yang ku alami itu mulai lagi. Sepertinya jantungku sudah mulai tidak normal!!
“Hai, ayo masuk” katanya sambil membuka pintu lebih lebar. Tante Rizuky bergegas-gegas menyambutku.
“Ehh Bintang, kok datang malam-malam sayang??” katanya sambil mengajakku masuk ke ruang tengah yang lapang dan terang, sementara cowok yang menyandang gitar tadi mengikuti kami. Aku sebenarnya sudah terbiasa masuk ke sini, karena keluarga kami sudah sangat dekat!!!
“Ini tante, mama tadi minta aku antarin kue ini buat tante” jawabku sambil memberikan kotak yang aku bawa.
“Ya ampun makasih ya sayang!! Pasti resep kue yang waktu itu yah” kata tante Rizuky lagi.
“Oh ya sayang, ini anak tante!! Dia baru pulang dari Jepang” lanjut tante Rizuky sambil menunjuk ke arah cowok yang berdiri di belakangku. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya dan aku langsung menerima uluran tangannya.
“Dirga” katanya tersenyum. Jantungku makin kencang berdetak, membuat tanganku membeku. Untung saja aku langsung melepaskan tanganku dari genggamannya, kalau tidak dia pasti akan heran. Dan bisa-bisa berpikir ngaco tentang tanganku yang tiba-tiba dingin.
Aku tersenyum untuk meredakan getar di hatiku!! Mengapa senyumnya terasa begitu dekat?? Seolah aku pernah mengenal orang ini sebelumnya. Tapi tidak mungkin, aku baru sekali ini bertemu Dirga. Walaupun sudah bertahun-tahun menjadi tetangga om Yudha. Apalagi aku pernah kuliah di Australia, jadi tidak mungkin aku pernah bertemu dengannya. Tapi kenapa aku jadi seperti ini?? Merasa seperti di dekat Reygha. Perasaan yang sama pada dua orang yang sangat berbeda!!! Dalam sehari aku bertemu dua orang yang membuat hatiku bergetar. Hidupku jadi aneh!!!






LUKA ANGIN, DALAM BINGUNG
Hujan rintik-rintik mengguyur saat mobilku menanjak kemudian menuruni bukit-bukit rendah sepanjang jalan menuju puncak. Di belakangku mengikut red ranger milik Anggun!!! Akhirnya aku bisa menunaikan janjiku untuk membawa mereka ke “BINTANG FLOWER GARDEN” tempat kebanggaanku. Aku membunyikan klakson saat papan besar bertuliskan “BINTANG FLOWER GARDEN” tampak di depanku. Dari kejauhan tampak seorang cowok berlari keluar dari salah satu rumah kaca. Dia pasti Bisma, cowok berusia 19 tahun yang sudah lama bekerja di tempatku ini.
“Kak Bintang!! Kenapa baru ke sini??” serunya saat aku keluar dari mobil. Wanda dan Anggun ikut turun dan secara spontan berteriak lepas terbawa suasana puncak yang sejuk.
“Busset, tempat kamu asyik sekali. Harusnya kita sering-sering ke sini” seru Wanda seraya memejamkan matanya dan menghirup oksigen segar yang melayang di udara.
“Kita boleh tidak jalan-jalan ke sana??” kata Anggun sambil menunjuk ke suatu tempat dimana terdapat banyak bunga-bunga bermekaran.
“Boleh, ntar kalau tersesat minta antar saja sama pegawai di sana yah” jawabku sambil tersenyum. Mereka langsung berlari sambil tertawa senang. Aku mengalihkan perhatianku pada Bisma yang masih berdiri sambil menunduk di depanku. Dia sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, dan saat itu aku melihat gurat aneh di wajahnya!!!
“Kamu lagi ada masalah yah??” tanyaku membuatnya mendongak.
“Ahh… kakak bisa saja!! Kok kakak tiba-tiba bertanya begitu?? Aku baik-baik saja” katanya sambil memasang senyumnya seperti biasa dan berjalan mengiringku ke arah rumah kaca dimana ratusan bibit mawar sedang tumbuh senang!!
“Kamu tidak bisa bohong sama kakak!!! Jadi mending ngaku saja deh, lagian selama ini kamu juga sering cerita sama kakak, kok tiba-tiba sekarang main sembunyi-sembunyi??” desakku sambil tersenyum. Aku sudah lama mengenal Bisma, dia tidak pandai berakting. Secara otomatis semua yang dia sembunyikan dari aku akan muncul dengan sendirinya!!
“Ummm… kali ini masalahnya lebih dari biasanya kak” katanya mulai terbuka. Aku memang hebat dalam hal membujuk!!! Tidak butuh banyak waktu untuk membuat Bisma bercerita. Just one minute!!!
“Sebesar dan sehebat apapun masalahnya tidak akan ketahuan jalan keluarnya kalau kamu tidak mau cerita!!” desakku lagi.
“Papa mau menjodohkan aku kak” katanya tiba-tiba membuat gelakku pecah!! Ya ampun ternyata di zaman seperti ini masih saja ada kejadian pra sejarah.
“Aku serius kak, papa mau menjodohkan aku dengan anak temannya yang ada di kampung sebelah. Dengan begitu aku bisa punya masa depan yang cemerlang, karena keluarga cewek itu akan menjaminku untuk bisa mengikuti tes masuk sebagai anggota kepolisian” keluhnya dengan suara pelan dan jujur. Aku jadi merasa bersalah karena menertawakannya. Sepertinya Bisma serius dengan perkataannya, aku heran dengan pemikiran om Halim!! Apa gaji yang diberikan oleh papa masih kurang?? Sampai-sampai dia harus menjual anaknya sendiri??
“Lalu apa yang akan kamu lakukan??” tanyaku mulai terbawa suasana serius yang diciptakan oleh kisah Bisma.
“Aku tidak mau kak, aku punya Yuan yang juga menyayangiku!! Tapi aku juga tidak bisa mungkir alasan yang diberikan papa memang masuk akal” lanjut Bisma tanpa sungkan. Yuan yang Bisma sebutkan adalah pacarnya. Mereka sudah dua tahun menjalin hubungan, dan sudah pasti semuanya akan terasa berat buat Bisma dengan adanya kejadian ini. Om Halim pasti sudah membujuk Bisma dengan menggunakan adik-adik Bisma yang banyak dan masih kecil-kecil sebagai alasannya!!
“Berapa banyak uang yang kamu butuhkan untuk masuk tes itu??” tanyaku lagi setelah beberapa saat terdiam untuk berfikir. Mungkin aku bisa membantu Bisma melewati masalah kali ini dengan tindakan nyata.
“Sekitar 50 juta” jawabnya lirih seraya menundukkan kepalanya semakin dalam. Aku ikut terdiam, aku tahu angka itu terlalu berat untuk seorang Bisma!!! Sedang buat aku, 50 juta adalah penghasilanku selama seminggu. Dari hasil penjualan rangkaian bungaku yang cukup sukses aku bisa menghasilkan 50 juta dalam satu minggu. Apalagi bila ada resepsi pernikahan yang membutuhkan rangkaian bunga dalam jumlah besar untuk pelengkap dekorasi, penghasilanku bisa lebih dari itu. Ini hal yang mudah untuk seorang Bintang!!!
“Hanya segitu???” tanyaku lagi dengan nada senang, membuat wajah Bisma berubah sedikit dari kesuramannya.
“Maksud kakak???” dia balik bertanya dengan nada penasaran.
“Kamu bilang sama papa kamu, tidak perlu menjodohkan kamu hanya untuk memperoleh uang 50 juta itu. Aku yang akan memberikan uang itu tanpa persyaratan apa pun” jelasku mantap. Aku tidak ingin Bisma menganggapku bercanda dengan ucapanku barusan!!
“Benar kak???” serunya sedikit berteriak.  
“Benar banget” jawabku lagi meyakinkannya.
“Yeeeaaahhh” kami berteriak serempak membuat burung-burung yang asyik menikmati sari-sari bunga terbang berhamburan. Dan tepat saat itu Anggun dan Wanda muncul.
“Bintang!!! Kami harus segera pulang, kamu tidak apa-apa kan kami tinggal??” kata Anggun buru-buru.
“Kok begitu?? Memangnya ada apa sih?? Kok buru-buru begini??” seruku dengan nada menolak. Kami kan datang sama-sama, masa aku harus ditinggal. Apa lagi aku belum sempat melihat keadaan perkebunan yang selebihnya.
“Aku tadi dapat telfon, pesawat Hamdan akan tiba 30 menit lagi” seru Anggun dengan nada senang. Umm Hamdan, cowok ganteng, tinggi dan tajir itu adalah pacar Anggun. Seminggu yang lalu Hamdan ke Singapura karena urusan bisnisnya, dan sekarang Anggun bilang Hamdan pulang!! Pantas saja Anggun begitu panik.
“Ya udah, temui tuh pacarmu” seruku sambil tertawa senang. Kalau menyangkut urusan Hamdan Anggun memang tidak bisa ditahan!!! Dia sudah cinta mati sama Hamdan.
Anggun segera berlari diikuti oleh Wanda, masih ditemani oleh hujan rintik-rintik yang sepertinya enggan berhenti. Suasana jadi semakin dingin membuatku sedikit menggigil.
“Kakak sepertinya kedinginan, mending kita ke Light Star saja” usul Bisma seraya membimbingku mendaki sebuah bukit rendah. Light Star adalah semacam café kecil yang sengaja papa bangun di sini. Selain sebagai pemasok produksi bunga untuk tokoku, tempat ini juga sering menjadi tujuan wisata. Karena itulah papa membangun café juga beberapa penginapan.
“Di sana juga ada papa kak, jadi aku bisa sekalian bicara sama dia” kata Bisma menambahkan.
Hari mulai beranjak petang, angin semilir membuat suasana puncak sulit terlupakan!! Daratan yang hijau, diselingi berbagai warna dari bunga-bunga yang sedang bermekaran menjadi ladang kisah bagi berjuta kupu-kupu. Suasana seperti ini yang membuatku betah berlama-lama di sini, bukan kebanggaan yang kecil bisa memiliki tempat ini dan membuat orang lain menikmati keindahannya.
Lagu Power Slaves “Jika Kau Mengerti” mengalun sendu saat aku menyeruput coklat hangat kesukaanku. Di sudut ruangan yang penuh dengan corak berwarna ini, nampak Bisma sedang berbicara bersama papanya. Om Halim berulangkali terangguk-angguk sambil sesekali melemparkan pandangannya ke arahku. Mungkin aku sudah bersalah, membuat Bisma melawan kehendak orangtuanya!! Hanya saja hatiku tergerak untuk menghentikan budaya perjodohan yang sering menciptakan tekanan. Bukan hanya untuk Bisma tapi untuk semua orang yang senasib dengannya.
Aku tersenyum saat adegan panjang pembicaraan Bisma dan om Halim diakhiri dengan pelukan hangat. Sepertinya om Halim sudah bisa mengerti kehendak Bisma untuk tetap bersama Yuan!!!
“Makasih nak” kata Om Halim saat sudah di dekatku. Aku hanya tersenyum sebagai pengganti jawabanku yang ikut bahagia melihat Bisma bisa menyelesaikan masalahnya dan menghapus gurat resah dari wajahnya yang keren!!!
“Bagaimana bapak bisa membalasnya?? Uang 50 juta bukanlah uang yang sedikit, tapi bapak janji akan menebusnya saat bapak mampu” katanya lagi seraya duduk di kursi yang terletak di seberang meja.
“Itu bukan hal yang besar kok pak buat Bintang!! Bintang benar-benar tulus ingin membantu Bisma, dan untuk itu Bintang tidak butuh balasan, toh selama ini Bintang bisa seperti sekarang karena jasa bapak dan juga Bisma. Jadi bapak tidak usah memikirkan untuk menebusnya, dengan keberhasilan Bisma semuanya akan terbayar, besok saya akan suruh Arman mengantarkan uangnya ke sini.” jelasku membuat Om Halim semakin jauh menunduk. Senyum Bisma semakin melebar!!
“Baiklah nak, sekarang bapak semakin tahu bahwa sikap dermawan pak Rendra benar-benar menurun sama non Bintang. Sekali lagi terimakasih” kata Om Halim lagi seraya menjabat tanganku.
Suasana semakin hangat, hujan di luar terdengar sebagai nada baru yang membawa kedamaian yang berbeda.
“Ya sudah pak, sepertinya sekarang hari sudah sore!! Saya harus pulang” seruku seraya bangun dan berjalan ke luar. Bisma mengantarku sampai ke tempat mobilku terparkir!!!
“Kakak, makasih yah” ucap Bisma lagi saat aku sudah hendak menjalankan mobilku.
“Waduhh sepertinya hari ini aku kebanjiran ucapan terimakasih neh” balasku membuat Bisma tertawa.
“Kakak adalah kakak terbaik yang pernah aku punya” katanya lagi.
“Good luck yah” sambutku seraya mulai menjalankan mobilku keluar dari lokasi perkebunan. Hujan yang tadinya hanya berupa butiran-butiran kecil dan lembut kini mulai menderas. Ku mainkan jemariku mengaktifkan tape di mobilku yang mulai memainkan lagunya. Lagu dari M2M “THE DAY YOU WENT AWAY “ mengalun sendu menemani perjalananku. Lagu ini mengingatkan aku pada Aray, namun sekejap banyangannya terganti oleh sosok Reygha dan kacamatanya yang lebar serta barisan puisi singkat yang dikirimkannya untukku. Ajimat apa yang dipakai olehnya sampai-sampai ia mampu membuat getaran di hatiku terbangun dari tidur panjangnya yang beku. Aku terkejut saat terdengar bunyi mendesing dari belakang mobil, sepertinya ban mobilku pecah!! Uhhh sial.
Ku hentikan mobil dan memeriksa ke belakang di tengah guyuran hujan!! Ternyata benar ban belakang pecah, kenapa dalam suasana seperti ini mobilku selalu merajuk. Pakai acara ban kempeslah, mogoklah!!! Uhhh bikin kesal saja neh. Mana masih jauh lagi!!!
Aku masuk kembali ke dalam mobil dan meraih tasku!! Aku harus cepat-cepat menelfon Arman untuk menjemputku. Tapi lagi-lagi semua barang-barangku berkonspirasi untuk melawanku, sekarang ponselku malah lowbat juga, membuatku bertambah bingung. Apa yang bisa aku lakukan sekarang?? Sementara perkampungan masih lumayan jauh!!
Aku menelungkupkan wajahku  ke setir mobil, bingung, kacau dan semua perasaan tidak enak lainnya!!! Aku kembali terkejut saat seseorang mengetuk kaca mobilku. Seseorang dengan sweater hijau dan kacamata besar sedang mengamatiku dari luar. Aku cepat-cepat menurunkan kaca!!
“Butuh bantuan??” tanyanya seraya tersenyum, membuat rasa tak berdayaku lenyap seketika. Dia kembali hadir saat aku butuh bantuan. Reygha, mungkin dia bukan manusia tapi malaikat!!!
“Ban mobilku pecah, kamu bisa mengganti ban??” seruku setengah berteriak karena suara hujan bertambah gaduh saat sedikit angin bertiup.
“Bisa, kamu punya ban cadangan??” katanya seraya menyingirkan air hujan yang membasahi wajahnya. Matanya tidak jelas terlihat karena kacamatanya menjadi buram karena air hujan!!
“Bannya ada di belakang” seruku lagi. Aku tidak sempat heran darimana dia datang?? Kenapa dia tiba-tiba ada disini?? Aku merasa kini getaran dihatiku menjadi sesuatu yang menyenangkan. Aku tak ingin getar itu terhenti. Melihatnya tersenyum dan menyingkirkan air hujan dari wajahnya atau menyingkirkan rambutnya yang kadang menutupi kacamatanya adalah hal yang indah. Aku tidak perduli lagi itu lebay, karena itulah yang ku rasakan sekarang.
“Sudah selesai, sekarang kamu bisa melanjutkan perjalanan” katanya setelah 30 menit berbaring di bawah mobilku dan mengganti ban yang tadi pecah.
“Makasih yah, bagaimana aku membalasmu??” tanyaku dengan nada bego. Aku sebenarnya ingin menanyakan maksudnya mengirimkan aku puisi itu, tapi mendadak bibirku kelu karena dia kini tersenyum!!
“Antarkan saja aku ke café R and B, itu akan aku anggap sebagai bayaran memperbaiki mobilmu” katanya sambil kembali tersenyum.
Aku menyeruput coklat panasku yang ke dua di hari ini saat sederet nada dari piano keluar melawan rintik hujan yang masih merdeka di tengah kekalahan matahari. Café R and B ternyata cukup nyaman!! Aku duduk ditemani oleh Reygha dengan sweater hijaunya yang basah. Dia sedikit menggigil saat luka angin lewat menerpa suasana yang mulai beku di tengah nada yang naik turun di tangganya yang minor. Aku bertambah yakin, dia berhasil memikatku!!
“Kamu kerja di sini??” tanyaku memecah kebisuan yang mulai membangun jurangnya di tengah kami.
“Iya, aku kerja di sini” jawabnya singkat sambil bersedekap menahan dingin.
“Aku boleh minta nomor hp kamu tidak???” aku memberanikan diri bertanya dengan membuang sekeping harga diriku. Masa bodoh, getaran di hatiku sudah cukup menjadi bukti bahwa aku menginginkannya lebih dekat. Tanpa menjawab pertanyaanku, Reygha tersenyum kecil. Membuatku menyesal telah mengeluarkan kalimat konyol itu.
“Kamu boleh ke sini kalau mau ketemu aku, sekarang lebih baik kamu pulang!!! Kamu tidak mau kan kalau tiga negara bagian Amerika Serikat heboh karena kepanikan mama kamu??” lanjutnya masih tetap tersenyum yang membuat hatiku makin berontak. Lagi-lagi dia pamer tentang banyaknya hal yang dia ketahui tentang aku. Aku semakin penasaran!!!
Mobilku kembali melaju membelah gelap. Pikiranku kacau, penuh dengan berbagai pertanyaan. Kalau seperti ini terus, lama-lama aku bisa mati penasaran!! Kenapa bibirku selalu kelu, setiap ingin bertanya tentang semua hal yang selalu dipamerkan oleh Reygha. Mulai dari puisi itu, dan kenapa begitu banyak hal yang dia ketahui tentang aku. Aku memang telah lama menanti hadirnya perasaan ini. Getar denyut kacau yang mampu memecah jantungku dengan rindu, tapi mengapa rasanya jadi rumit seperti ini?? Aku menghembuskan nafas keras, tidak mungkin aku jatuh cinta pada orang yang belum aku kenal.
Rumah sedikit ramai saat ku parkirkan mobilku di dekat garasi. Suara ramai orang bercakap-cakap terdengar dari dalam. Aku masuk sambil mengucap salam, tampak seorang wanita setengah baya sedang bercakap-cakap bersama mama. Umm tante Ribka, dia adalah adik papa. Aku sering menyebutnya toko emas berjalan, karena seluruh perhiasannya selalu digantungkannya ke lengan, leher atau di jarinya. Bahkan perhiasan warisan dari nenek moyang dulu, dipakainya juga!! Dan sikap pamernya itu menurun 100% pada anaknya, Nilam. Aku dan Nilam seumuran, tapi aku tidak begitu akrab dengannya. Karena dia hobby mengajakku bersaing, mulai dari masalah style busana, mobil, kesempurnaan fisik bahkan masalah pacar. Walaupun ujung-ujungnya dia selalu kalah, dia tidak juga mau berhenti.
“Ehh..ehh.. sudah pulang!!! Ayo ke sini” tante Ribka melambaikan tangannya ke arahku dengan gayanya yang seolah ingin menyaingi ratu Elizabeth. Aku masih bengong di depan pintu dengan wajah basah berpeluh!!
“Ini lho sayang, tante ingin memberikan ini buat kamu” Katanya setelah aku mendekatinya. Di tangannya tampak sebuah amplop yang sepertinya undangan pernikahan. Ohh.. ternyata ini undangan pernikahannya Nilam dengan seorang cowok bernama Arya. Umm wajahnya lumayan!! Tapi Nilam kemana yah?? Bukannya ini saatnya untuk pamer???
“Semoga ini bisa menjadi motivasi buat kamu untuk cepat-cepat menyusul dan mengikuti jejak Nilam” katanya lagi seraya tersenyum penuh kemenangan membuat mataku melotot. Whaaatttss??? Motivasi???
“Maksud tan….”
“Ohw sudah pasti Bintang akan segera menyusul, tinggal tunggu waktunya saja” kata mama cepat-cepat memutuskan kalimatku.
“Hai Bintang..!!!” Nilam mendadak muncul dengan dandanan ala badutnya, ternyata sedari tadi dia ada di ruang tengah. Aku menaikkan keningku, ini dia neh si biang kerok!!
“Bagus tidak undanganku?? Itu pesanan Aryaku lho” lanjutnya dengan nada bangga.
“Hmm bagus sekali!!! Sangat berkelas” jawabku mantap seraya mengacungkan dua jempolku. Padahal tadinya aku mau bilang biasa-biasa saja.
“Oh ya, kamu kapan nyusulnya?? Keburu jadi perawan tua lho” katanya membuatku kembali melotot, tapi mama memberiku isyarat untuk tetap tenang. Sepertinya Nilam memang sengaja membuatku kesal.
“Aku belum punya rencana!! Aku mau selesaikan dulu S2ku baru mau memikirkan hal itu” jawabku setelah menarik nafas panjang untuk meredakan emosi yang sempat menarik otot mataku menjadi tegang.
“Atau jangan-jangan memang tidak ada yang suka!! Iya tidak ma??” kata Nilam lagi seraya berpaling ke arah mamanya yang ikut tertawa cekikikan.
“Maksud kamu apa sih???” kali ini mama yang angkat bicara, sedang aku dengan senyum santai mulai berjalan mendekatinya. Sepertinya aku punya bahan bagus untuk membalas sikap pamernya itu!!
“Kamu masih ingat Rhyu tidak Lam??” tanyaku dengan nada santai seraya meletakkan tanganku di pundaknya. Seketika Nilam dan mamanya berhenti tertawa.
“Kamu tidak mau kan, kalau kejadian yang sama terulang pada Arya??” lanjutku lagi tersenyum menang melihat perubahan pada wajah Nilam yang seketika menjadi pucat.
“Ayo kita pulang ma” seru Nilam menarik tangan mamanya dan keluar dengan buru-buru.
“Yaelah begitu saja takut” gumamku setelah mereka berlalu.
Ryhu adalah seorang cowok tajir dan keren yang saat itu menjadi kepala bidang di perusahaan papa. Dia juga membantu papa mengurus yayasan dan saat itu Nilam sedang gencar-gencar mendekatinya. Bahkan dengan bangganya, Nilam bercerita padaku bahwa Rhyu sudah cinta mati sama dia dan Nilam tinggal menunggu waktu kapan Rhyu akan mengungkapkan perasaannya itu. Tapi ujung-ujungnya Rhyu malah mengungkapkan perasaannya padaku di depan Nilam!! Malunya pasti bukan main.
Aku naik ke kamarku sambil mengamati undangan Nilam. Pikiranku menderu memikirkan kata-kata tante Ribka serta tanggapan mama yang mengiyakan bahwa aku akan segera menyusul Nilam dan menikah. Mengapa aku seperti dipaksa untuk itu?? Usiaku baru 23 tahun!!! Dan itu bukanlah batas usia yang membuatku harus buru-buru menikah!!!
Kadang kita ragu untuk mengakui kebenaran yang membawa kita terbang
Kadang terlalu sulit untuk bisa melihat seteguk ketulusan di tengah dahaga yang bergolak
Aku tahu, kau tak sekuat  pelangi yang mampu menumbangkan badai.
Kau tak sejujur mata air yang mampu menunjukan diri meski dalam terik.
Tapi biarkan aku tetap menunggumu, hingga hatimu tergerak untuk menemukanku.
……. REYGHA ……
Aku kembali menemukan sebaris puisi saat aku baru saja masuk ke kamarku. Aku tidak begitu mengerti kata-katanya. Dan mengapa Reygha tidak langsung mengatakannya padaku, seandainya ada sesuatu yang hendak dia bicarakan??? Dia begitu misterius!!!
“Sayang…..” mama masuk ke kamarku saat aku baru saja selesai mengganti baju.
“Ada apa ma???”
“Sayang, tiga hari lagi resepsi pernikahan Nilam akan digelar. Kamu akan hadir sama siapa di pesta itu, sayang??” tanya mama membuatku bingung. Aku berusaha menebak apa maksud mama, tapi tidak berhasil.
“Maksud mama??? Kenapa harus bertanya seperti itu?? Aku kan bisa bareng mama dan papa atau sama Anggun dan Wanda” jelasku. Dengan lembut mama menarikku untuk duduk di dekatnya!!
“Kamu tidak bisa seperti itu sayang!! Kamu harus punya pasangan ke pesta itu kalau tidak, mereka akan mengejekmu. Kamu tahu kan bagaimana sikap Nilam dan mamanya??” lanjut mama membuatku bertambah bingung. Sepenting itukah kejelasan statusku?? Apa salahnya kalau sampai saat ini aku masih sendiri?? Kenapa sikap mama jadi rumit seperti ini?? Selama ini mama tidak pernah mencampuri urasanku yang menangkut pasangan atau sejenisnya. Tapi mengapa sekarang jadi seperti ini??
“Tapi ma, apanya yang salah kalau aku datang sendiri ke pesta itu??” aku mencoba protes. Ini sudah melanggar paham dan prinsip yang selama ini aku pegang.
“Mama tahu, ini tidak penting dan sangat membingungkan buat kamu. Tapi mama hanya tidak ingin kamu malu di pesta itu nanti. Temukan pasangan sebelum pesta itu, sayang” kata mama lagi kemudian meninggalkan aku yang masih terperangah.
***
“Haaahh… jadi mama kamu ingin kamu segera mendapatkan pacar??? Dan waktu yang dia berikan hanya dua hari??” Wanda berteriak histeris saat ku ceritakan titah mama yang harus segera ku laksanakan. Aku hanya mengangguk pelan membenarkan kata-katanya. Kami sedang di kampus, dan teriakan Wanda berhasil mengundang tatapan heran dari teman-teman yang berseliweran. Aku sampai lupa bercerita tentang puisi Reygha semalam.
“Ini benar-benar aneh, gila!!!” umpat Wanda sengit.
“Kamu sih, terlalu betah menjomblo jadi begini deh jadinya” lanjutnya lagi dengan nada menyalahkan.
“Aku punya ide” Anggun yang sedari tadi diam akhirnya angkat tangan eehh… angkat bicara!!
“Ide apa??” serempak aku dan Wanda bertanya seraya mendekatkan wajah ke wajah Anggun.
“Kamu tidak perlu cari pacar dulu, cari cowok saja yang mau diajak ke pesta itu. Dengan begitu kamu bisa datang bersama pasanganmu” katanya seraya menjentikkan jarinya.
“Aahh.. benar juga tuh” seru Wanda membuat mataku semakin bersinar tapi mendadak redup lagi saat menyadari satu hal penting yang bisa membuat rencana itu tidak berhasil.
“Tapi siapa??” aku menunduk dengan sikap pasrah. Tidak akan ada yang mau jadi pacar semalam.
“Ya ampun!! Kok jadi pasrah begitu?? Kamu lupa bahwa kamu adalah Bintang Azzahrah?? Banyak cowok di luar sana yang berebut untuk bisa jalan sama kamu walaupun untuk sehari” tegas Wanda seraya mengarahkan telunjuknya ke arahku. Gayanya jadi mirip ibu tiri yang mengancam anak tirinya. Seram!!!
“Salah satunya aku” tiba-tiba saja suara seseorang terdengar menyela. Aku menoleh mendapati Kaeda dengan gaya coolnya. Dia menatapku dengan sikap serius, membuatku sedikit salah tingkah.
“Ehh.. Bintang kami mau belanja dulu yah” Anggun cepat-cepat menyeret wanda dan meninggalkan aku dan Kaeda. Aku tahu mereka sengaja menciptakan suasana ini!!!
“Kita beli es krim yuk” ajak Kaeda dengan meraih tanganku untuk berjalan di sisinya. Aku mengikutinya tanpa berbicara!!! Hanya mataku saja yang mulai awas menatap Kaeda, cowok  sempunah yang jadi rebutan banyak cewek. Tapi kenapa aku tidak bisa jatuh cinta sama dia?? Padahal aku sendiri sadar, betapa sempurnahnya Kaeda.
“Neh es krimnya” kata Kaeda seraya menyodorkan es krim vanilla padaku.
“Vanilla??” tanyaku. Aku bukannya tidak suka es krim Vanilla tapi aku lebih yang coklat.
“Kenapa?? Kamu tidak suka yah??” tanya Kaeda dengan wajah panik.
“Ohh… tidak apa-apa kok!!!” aku mulai memakan es krim vanilla. Aku merasa Kaeda sedang memperhatikan aku dengan seksama.
“Andai saja aku bisa setiap sedekat ini dengan kamu” kata Kaeda sambil lalu seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Apa…???” aku sedikit terkejutmendengar perkataannya.
“Kamu pasti tidak pernah tahu, apa yang membuatku merasa begitu nyaman di dekatmu!! Karena aku sendiri tidak tahu kenapa rasanya begitu nyaman bila ada di dekatmu” dia menatap jauh ke atas saat mengatakan hal itu. Mungkin dia berharap jawabannya akan terukir di atas sana. Aku bisa mengerti apa yang dirasakan Kaeda karena aku merasakan hal yang sama setiap berada di dekat Reygha walau kadang bayangan Dirga datang mengacaukan perasaan itu dan membuatnya bertambah rumit.
“Aku dengar kamu lagi cari pasangan untuk ke pestanya sepupumu??” tanyanya lagi. Kali ini terdengar lebih santai!! Aku hanya mengangguk sambil terus memasukan es krim vanila itu ke mulutku.
“Aku mau kok jadi pasanganmu ke pesta itu!! Itupun kalau kamu mau” katanya lagi dengan sikap pasrah. Aku masih tetap diam, semua kemampuanku berbicara seperti hilang!!
“Jadi bagaimana?? Aku jemput nanti yah” lanjut Kaeda dengan senyum penuh harap. Aku menutup mata beberapa detik kemudian mengangguk menerima permintaannya!!!
“Waahh serius neh!!! Makasih Bintang” katanya senang, kemudian menelan semua es krimnya!! Aku merasa geli di dalam hati, aku ingin tertawa melihat wajah Kaeda blepotan kena es krim.
“Haahhaahaa, wajah kamu lucu tuh!!! Sini aku bersihkan” akhirnya suaraku keluar dengan nada akrab. Aku merasa selama ini aku sudah terlampau mengabaikan Kaeda yang sebenarnya sudah sangat baik padaku. Kaeda membungkuk sedikit dengan senyum lebar, membiarkan aku membersihkan bibirnya dari noda es krim yang blepotan.
“Tuhaaann.. mimpi apa aku semalam bisa sedekat ini dengan bidadariku” gumamnya membuatku kembali tertawa. Dan tepat saat itu ponselku berbunyi, di LCDnya nampak nama mama sebagai callernya!! Aku menjauh sedikit dari Kaeda untuk menerima telfon mama.
“Hallo ma, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam sayang!! Kamu pulang sekarang yah” kata mama di seberang sana.
“Memangnya ada apa ma??” tanyaku lagi dengan nada heran. Tidak biasanya mama menyuruhku pulang seperti ini.
“Hari ini jadwal mama untuk chek up, kamu lupa yah?? Ayo pulang temani mama ke klinik” kata mama lagi. Aku jadi ingat sekarang, hari ini memang jadwal mama untuk chek up ke klinik jantung.
“Iya ma, Bintang pulang sekarang” jawabku segera menutup telfon dan pamit pada Kaeda yang masih berdiri di sampingku.
“Aku pulang dulu yah, harus temani mama ke klinik” pamitku pada Kaeda.
“Ok, sampai jumpa malam minggu” katanya seraya menjauh dan melambaikan tangannya. Mungkin aku harus memberinya kesempatan untuk bisa jalan sama aku!!! Apalagi aku juga memang lagi butuh bantuannya.
Satu jam sudah berlalu, ku rebahkan badanku disandaran kursi berwarna putih yang berjejer rapi di sepanjang dinding klinik. Ku lemparkan pandanganku ke arah ruangan yang tadi dimasuki mama. Setelah satu jam menunggu akhirnya nama mama dipanggil juga. Inilah salah satu penyebab aku agak malas antar mama ke klinik, antrinya super lama!!!
Aku menghembuskan nafas dengan gelisah, sambil sekali-sekali melongok ke pintu klinik mengamati banyak kendaraan yang lalu lalang. Tiba-tiba saja seorang cowok dengan stelan putih-putih mendekatiku.
“Sama siapa??” tanyanya seraya tersenyum, dan seperti biasa jantungku langsung memperlihatkan kekacauannya!! Neh jantung memang sudah tidak beres, minta diganti mungkin.
“Sama mama” jawabku kikuk dan membalas membalas senyuman cowok dengan jas putih yang ternyata Dirga.
“Pasti bosan yah karena menunggu lama, dari tadi aku perhatikan kamu manyun saja tuh” Dia duduk di sampingku seraya merapikan jas putihnya yang agak kacau karena hembusan angin.
“Abisnya lama!! Oh ya, kamu kerja di sini??” aku mulai mencairkan suasana. Jantungku mulai rewel dan dia tidak mau membiarkanku tenang!!
“Yahh, aku kerja di sini sejak balik dari Jepang. Anehnya mamamu malah memintaku untuk memasang gips di kakimu padahal aku kan dokter ahli jantung” katanya seraya tertawa kecil, membuat wajahnya jadi semakin menawan. Mungkin aku memang sedang dipermainkan oleh waktu dan juga perasaanku sendiri. Aku jatuh cinta pada dua orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan!!! Ini mungkin gila, tapi asyik.
“Kok kamu jadi bengong” lanjutnya membuatku sadar, aku terlalu lama memperhatikan wajahnya. Dan itu pasti membuatnya curiga.
“Ehh… aku lagi teringat sesuatu” jawabku gugup dan mencari alasan yang bisa dia terima.
“Ya udah, aku mau kerja lagi neh!! lagian mama kamu sudah selesai tuh” katanya seraya melayangkan pandangannya ke arah pintu ruangan yang tadi dimasuki oleh mama. Tampak mama di sana dengan wajah ceria seperti biasa.
“Bagaimana ma??” tanyaku setelah mama menghampiriku.
“Semuanya baik-baik saja, sayang!! Kamu tidak perlu cemas” kata mama kemudian tersenyum pada Dirga yang menyapanya.
“Kita pulang yuuk” ajak mama setelah Dirga berlalu hendak melanjutkan pekerjaannya.
Hari sudah beranjak sore, setidaknya hari ini aku mendapat keyakinan bahwa hatiku tak lagi hampa. Aku jatuh cinta, walaupun rasa itu akan selamanya terpendam. Seperti kata Reygha, aku memang tidak bisa sejujur mata air yang mampu menampakkan diri meski dalam terik. Rasaku yang indah ini mungkin harus terpendam selamanya hingga dia sendiri yang menemukanku.


Bersambung.....................!!!!