Rabu, 20 April 2011

Cahaya Hampa..!!!

Wktu mank tlah lama brlalu, tngglkn knangn yg mngunciQ d stu msa!! alunan nada indah it blm mlepasQ, qu benci mengingtmu!!
hri ini, saat sepi kmbli mrantaiQ. Byangmu kmbli mnjelma!! aq sprti kmbli mlihatmu memelukx d dpn hrapQ yg hncur berkeping-kping. Kw akhiri mmpiQ hx krna dia yg brparas rpawan. Kw tega mngucpkan dusta, yg dgn bdohx qu percya!!

kini....
dmi dia yg tlah kw cntai, jngn prnh kw brpaling lgi pd hti yg dlu d rkatkn olh cnta djntungmu n kw duakn!!jngn plingkan wajh indhmu.
Kw hx akn mmbwtQ mnghmbskan nfas yg msih tersisa,,
jngn prnah kw ucpkan lgi kta chaya itu,
krna chya itu trlampau trluka hingga lupa crax brsinar!!

Luka Lama

Mlm kmbli mreguk mnisx mmpi rmbulan, sbait nyanyian sang kksih yg kandas di sayap2 bintang!! Rintih rndu brdesakan tnpa suara, sesak d dlm ruang hati yg trluka.
LangkhQ trhenti saat jejak itu mnipuQ, chaya suci itu telah brdusta dgn jnji yg tk prnah tunai n trabaikan!! Kw bhkan tak ingt tlah mngucpkan ikrar plsu itu, n aQ dgn bdohx prcaya pd sbh kbohongan smpurnah yg kw rekayasa sbg kbenaran!!
Jngan... jngan pernh lgi dtang pdQ.
Ksah n smua kbohongn ini sdh ckup mnjdi blati n mmbwt lubang bsar di htiQ. Kw tak prnah sdar, kw mmbuwt smuax trlmbat!! aQ trlmbat utk bngun hngga mmpiQ mti n mrantau jauh dri kta indah.
Kini...
demi dia, demi aQ n demi smua kbohongan yg tlah susah pyah kw bngun, jngn prnah brpaling lgi!!

Curhat untuk BundaQ...!!

Bunda.... qu tw smua yg mngendp d htimu!!! smua yg mnyiksa btinmu, tentangQ n smua yg ad d hidupQ.
Bunda... kw tw aqpn trsiksa, aq tk mmpu mnymbung smua mimpimu, aQ tak mmpu mringankn lngkahmu di usiaQ yg mulai dewasa!! aq lemah, Bunda!!! aq bkanlah sorang ratu dgn titah prkasa sprti yg kw hrapkn.
Bunda... 20 thun tlah brlalu, tp aq blum bs mruntuhkan smua krma ini. Ksah yg mnjadi harga mati untuk aQ dn khidupnQ. Saat klemahan, ksakitan, mndobrak jasadQ dan mrenggangkan kratan dagingQ yg lunglai. Bunda... maaf karna kw tak mmpu menolongQ, luka ini trlanjur mnjdi dioksida yg mmbatasi stiap hembusn nfasQ. Maaf, aq hx mmpu membwtmu mnangis di setiap sjud mlammu, maaf aQ tdk bs mnjdi chaya di msa depanmu krn mngkn aQ tk akn snggup mlewati masa ini. Aku mngkin tak akn smpat mreguk indhnya masa dpan.
Bunda... bla stu saat aQ mndahuluimu keharibaan, maka maafknlh aQ spenuh htimu. Aq tk mmpu mmbls smua pngorbanan n smua airmata it. maafkn aQ bunda.....

Selamat tinggal cinta pertama

Senandung purnama pucat satu detik lalu
Membawa kenangan lama dalam benak
Rengkuh aku dalam peluh yang menunggu

Layaknya pagi yang lelah menanti embun
Yang tak kunjung menebar bau basah di tengah kemarau
Aku masih menunggu pembebasan hati
Yang masih tertawan dalam belenggu cinta pertama

Ku tangisi malam dan bulan
Karena harus lewat tanpa cahaya
Ku panggil mimpiku pulang
Ku panggil asaku kembali
Karena cinta pertamaku telah kau bagi
Hingga aku harus mengucapkan selamat tinggal

Bahana angin klasik mengungkap sesal
Yang ku tuturkan pada semesta yang bersaksi
Kau mulai terlupakan
Dengan kehadiran berjuta wajah perkasa
Yang mengisi lembar cerita cintaku

Selamat tinggal cinta pertama
Hanya waktu yang bisa melihat tangisku
Saat kehilanganmu
Hanya masa yang bisa membuktikan rasa cinta
Yang hingga kini bersemedi di balik kilau malaikat putih

Hati yang membiru karena kau sakiti
Akan menemukan tambatan yang mengerti
Selamat tinggal cinta pertama


Senin, 18 April 2011

Permintaan Hati


Suara langit bergema menjawab gaung hati
Dengan pijar udara yang mulai retak
Siap menumpahkan harap yang ku ingin

Kisah itu kini mendekat
Membias setiap celah dengan cahaya
Silau menutup mata dari segala luka
Yang pernah tertoreh
 

Andai langit bisa melihat
Mengintip segala sendu
Yang tercipta karenanya
Andai semesta dapat merasa
Betapa terang pijar mimpi yang menginginkannya

Genggam yang mulai menghangat
Mencairkan magma yang menutup dasar hati

Aku tak meminta banyak
Cukup jadikan dia bahagiaku
Di ujung waktu yang akan berganti
Aku tak meminta lebih
Cukup jadikan dia cahaya saat gelapku mulai memekat

Aku tak berharap banyak
Cukup jadikan dia puisi terindah dan terakhir
Yang pernah ku tulis saat tangan ini telah menemukan lelahnya
Aku tak berharap lebih
Cukup berikan waktu yang lebih untuk bersamanya

Hingga relung bumi mulai menipis
Menjadi debu yang hanya bisa hinggap di dedaunan kusam
Hingga bumi yang sarat dengan kisah
Melepaskan bebannya menuju akhir waktu
Hingga akhirnya raga ini
Menemukan tempat damai untuk berpusara
Hingga kelak jiwa menemukan ujung syurga untuk bersemayam

Curhat.....!!!!

Ku habiskan waktuku untuk menunggu. Walau langitpun tahu, hal itu tak akan berarti apa-apa. Kau tinggalkan hatiku yang dingin tanpa pernah tahu kaulah lentera cinta yang membuatnya hangat! Mungkin tak kan ada kesempatan ke dua, karena aku pun tak ingin itu terjadi, kau terlalu gelap untuk diberi segenap waktu yang berharga itu.
Di sini, di tengah sinarku yang berpijar, aku merasa kegelapan!! Aku masih mengukir indahnya mimpi lama di tengah puncak masa depan yang menggempurku dengan misil keadilannya. Aku menutup mataku dari semua kebenaran itu, tak perlu mengingatkan aku!! Aku tahu dan sadar sakitnya masa itu. Percikan luka itu malah membuatku semakin memujanya, hingga rasa itu pulang aku mungkin akan terus memujanya!!
Di jantungku yang mungil, kau sematkan sebuah kisah yang dahsyat!! Yang membuatnya nyaris berhenti berdetak karena bahagia juga kesedihan. Dan di hatiku yang merah merona, kau lukiskan dendam yang membuatnya menghitam!! Di jiwaku yang dangkal, kau bangun sebuah ruang renung untuk melihat sebuah kenyataan. Malam ini, saat bulan mellukis langit dengan seribu pijarnya, saat bintang membiarkan sebait laguku kandas di sayap-sayapnya, saat angin bercerita tentang kerasnya hari bersama, saat malam memberi sekeping kehangatan yang hening, aku ingin kau tahu rinduku masih tetap tak bertepi. Ku ingin kau kembali hadir dalam mimpiku, seperti semalam saat aku masih bisa merasakan hangat nafasmu menyapu wajahku.

Akhir laguQ


Saat pertama ku berpijak
Gemuruh teriakan semesta melengking ganas
Mengunci setiap bait
Yang telah tertuang lewat nada

Gemercik aliran udara merantai bibir
Kaku menghujam ke jantung alam
Ku terpaku saat sadar
Tak mampu bertutur untuk membaca bulan
Ku tak menyadari kembaran sukmaku
Yang telah lebih dulu membawa dawai
Sampai ke titik nada ini

Dan kau tak mampu melihat itu
Kau tak mampu meraba sebuah titah hati
Membaca sebuah sabda
Yang ku harapkan sebagai awal
Dari setitik mimpiku yang telah berpusara

Kau ikut dalam arus ramai itu
Menghujatku tanpa ampun dengan ribuan ucap
Ku terdiam membenarkan kenyataan
Yang kembali membunuhku

Ku dekatkan wajahku jauh ke pusat bumi
Meminta keperkasaan yang mampu
Membungkam seribu cemooh

Andai saja aku lebih cepat terbangun
Mungkin mimpi itu masih bisa terulang
Untuk malam berikutnya
Tapi semua terlambat
Pijar pagi telah terlanjur menyeret sadarku

Aku terlanjur kaku
Hingga tak mampu memetik dawai itu lagi
Aku telanjur bungkam
Hingga tak mampu lagi merangkai nada
Menjadi nyanyian alam karena fajar laguku
Telah merantau jauh

Meninggalkan wangi asa
Yang belum sempat merebak di pagi yang buta
Ku tak mau lagi menulai lagu…
Ku tak mampu lagi untuk bernyanyi