Angin senja ini kembali membawa senyummu datang, menangkap harapku dengan rasa yang tak menentu saat aku merasa telah mampu melupakanmu dan menggenggam matahari.
Tuhan.... senyum itu kembali memikatku seperti angin yang resah karena terperangkap dalam syair sang pujangga. Dia begitu indah, membuat seluruh mimpiku bergetar cemas ku akan kembali terluka oleh belati harapku yang menembus langit.
Rindu yang berhasil ku redam sebelumnya, kni berang menyiksaku. Aku tak berdaya saat hatiku telah terlanjur cinta. Aku bahkan rela bila kelak rasa ini membunuhku.......
Airmataku kembali bersorak menang, aku kembali menangis untuknya meski telah berulang kali berteriak " ini adalah tangisanku yang terakhir " aku kembali berbohong pada diriku sendiri.
Tuhan... maafkan aku yang masih menjadikannya satu-satunya nama yang terucap di doaku.
Maafkan aku yang masih saja terpesona sosoknya saat dia dan angin berlalu dan tersenyum padaku.
Tuhan... maafkan aku yang masih saja memendam rindu yang begitu dalam untuknya karena hanya dengan senyumnya hati yang kecil ini bisa merasa tegar dan kembali hidup.